Sunday, October 18, 2026

Pemberdayaan Masyarakat melalui Pendidikan Nonformal di Masjid

Setiap Jumat, masjid di seluruh Indonesia penuh dengan jamaah. Setelah salam terakhir, jamaah bubar dan masjid kembali sepi sampai waktu sholat berikutnya. Dari sini saya bertanya: apakah kita sudah memanfaatkan masjid sepenuhnya?

Menurut saya belum. Masjid adalah salah satu aset sosial terbesar yang kita miliki. Jumlahnya ratusan ribu, tersebar dari kota sampai pelosok desa, dan hampir selalu berdiri di tengah permukiman. Tidak banyak lembaga yang mampu mengumpulkan warga satu lingkungan secara rutin tanpa undangan dan tanpa paksaan. Sayangnya, kekuatan ini sering hanya dipakai untuk ibadah ritual.

Kembali ke Teladan Awalnya

Pada masa Nabi, Masjid Nabawi tidak hanya dipakai untuk sholat. Di sana orang belajar, bermusyawarah, menerima tamu, merawat yang sakit, dan membagikan bantuan kepada yang membutuhkan. Masjid adalah pusat kehidupan komunitas. Karena itu, memberdayakan masyarakat melalui Masjid bukan menambah beban baru, melainkan mengembalikan fungsi yang sudah ada sejak awal.

Masjid sebagai Ruang Pendidikan Nonformal

Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengakui pendidikan nonformal sebagai bagian dari sistem pendidikan, yang menjangkau warga yang membutuhkan layanan belajar di luar jalur formal. Di sinilah Masjid punya peran. Pendidikan nonformal bersifat fleksibel, dekat dengan kebutuhan warga, dan bisa diselenggarakan di mana saja. Masjid memenuhi ketiga syarat itu.

Sebenarnya Masjid sudah lama menjalankan pendidikan nonformal lewat taman pendidikan Al-Qur'an, pengajian, dan majelis taklim. Yang perlu dilakukan adalah memperluas cakupannya, dari belajar mengaji ke belajar hidup dan bekerja. Beberapa bentuknya dapat berupa:

1. Kelas keterampilan. Menjahit, memasak, perbengkelan, pertanian, atau literasi digital dapat diajarkan kepada pemuda, ibu rumah tangga, dan pencari kerja. Bagi anak putus sekolah, kelas seperti ini bisa menjadi jalan kembali ke pendidikan kesetaraan maupun ke dunia kerja.

2. Literasi keuangan dan kewirausahaan. Jamaah belajar mencatat keuangan, menghitung modal, dan memasarkan produk. Pengetahuan sederhana ini sering menentukan apakah usaha kecil bertahan atau berhenti.

3. Zakat dan infak yang produktif. Sebagian dana umat dapat diarahkan menjadi modal usaha atau peralatan kerja bagi penerima yang sudah dilatih. Bantuan konsumtif tetap penting, tetapi pendidikan yang disertai modal membuat penerima bantuan berpeluang menjadi pemberi.

4. Jejaring kemitraan. Pengurus Masjid biasanya mengenal siapa yang kesulitan dan siapa yang mampu membantu. Pengetahuan ini dapat dipakai untuk menghubungkan warga dengan pelaku usaha, lembaga zakat, perguruan tinggi, atau program pemerintah.

Modal Sosial: Kekuatan yang Sering Terlupa

Pemberdayaan tidak hanya soal uang dan keterampilan, tetapi juga rasa saling percaya. Sholat berjamaah, pengajian, dan gotong royong menumbuhkan hubungan yang tidak dapat dibeli oleh proyek mana pun. Dalam ilmu sosial, ini disebut modal sosial. Kepercayaan itulah yang membuat warga mau datang belajar, mau bekerja sama, dan mau menolong sesama. Pendidikan nonformal di Masjid memiliki keunggulan ini dibandingkan program yang datang dari luar.

Studi Kasus: Masjid Jogokariyan, Yogyakarta

Gagasan ini bukan angan-angan. Masjid Jogokariyan di Kota Yogyakarta, yang berdiri sejak 1960-an, sering dirujuk sebagai contoh Masjid yang menjalankan fungsi sosial dan pendidikan secara sungguh-sungguh. Ada tiga pelajaran yang menonjol.

Pertama, pemetaan jamaah. Takmir melakukan pemetaan dakwah untuk mengenali warga sekitar beserta kebutuhannya, sehingga program disusun berdasarkan data, bukan dugaan. Cara ini sejalan dengan prinsip pendidikan nonformal yang berangkat dari kebutuhan peserta belajar.

Kedua, dana yang berputar dan transparan. Masjid ini dikenal dengan prinsip infak bersaldo nol: infak yang masuk segera dikembalikan kepada jamaah melalui layanan dan program, tidak dibiarkan mengendap. Laporan keuangannya dibuat sederhana agar jamaah dapat menelusuri penggunaannya, dan kajian akuntabilitas menyebut praktik ini menambah kepercayaan jamaah. Zakat, infak, dan sedekah dikelola melalui baitul mal.

Ketiga, pendampingan dan kemandirian. Masjid mendampingi jamaah, termasuk pelaku UMKM lokal, dan sejak 2005 menggagas Gerakan Jamaah Mandiri. Wakaf produktif dan kegiatan seperti Kampung Ramadhan turut memperkuat peran ekonominya.

Keberhasilan itu bertumpu pada data jamaah, transparansi, dan kepemimpinan yang konsisten, yang dibangun lama oleh almarhum Muhammad Jazir bersama takmir. Tentu model ini tidak bisa disalin begitu saja. Setiap Masjid perlu menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kemampuan jamaahnya.

Tantangan yang Perlu Diakui

Gagasan ini tidak bebas persoalan. Banyak pengurus Masjid sudah kewalahan mengurus ibadah dan bangunan, sehingga program tambahan tanpa tambahan tenaga hanya akan mati di tengah jalan. Dana Masjid sering terserap untuk pembangunan fisik, sementara program warga mendapat sisa. Pengelolaan keuangan yang tidak transparan dapat merusak kepercayaan dengan cepat, dan program yang hanya menguntungkan kelompok tertentu bisa memecah jamaah. Karena itu, Masjid memerlukan pengelolaan terbuka, pembagian tugas yang jelas, dan keterlibatan berbagai kalangan, termasuk perempuan dan pemuda, serta mitra yang memiliki keahlian mengajar.

Mulai dari yang Kecil

Pemberdayaan lewat masjid tidak harus dimulai dengan program besar. Langkah awalnya sederhana: mencatat keterampilan dan kebutuhan jamaah, memilih satu kegiatan yang paling dibutuhkan, kemudian melaksanakannya dengan baik sebelum menambah yang lain. Satu kelas menjahit yang berjalan konsisten lebih bermanfaat daripada sepuluh program yang berhenti di bulan ketiga.

Penutup

Masjid yang ramai oleh sholat patut disyukuri. Tetapi masjid yang jamaahnya semakin berdaya, pemuda-pemudanya terampil, dan warga lemahnya tidak dibiarkan sendirian adalah masjid yang menjalankan fungsinya secara utuh. Sujud di dalam masjid melatih kerendahan hati. Bangkit setelahnya, bersama-sama, adalah bagian yang sering kita lupakan.

 


No comments:

Post a Comment