Thursday, October 29, 2026

Pendidikan yang Seharusnya: Belajar Menjadi Manusia Utuh

Setiap kali musim penerimaan siswa baru tiba, pertanyaan yang muncul hampir selalu sama: sekolah mana yang nilainya paling tinggi, jurusan mana yang paling cepat dapat kerja. Jarang sekali ada orang tua yang bertanya, anak saya nanti jadi manusia seperti apa?

Padahal itulah soal utamanya. Pendidikan terlalu sering kita kecilkan menjadi urusan ijazah dan lapangan kerja. Ijazah memang perlu, pekerjaan juga perlu. Tetapi keduanya hanya hasil sampingan. Inti pendidikan adalah membentuk manusia.

M. Natsir memahami ini sejak awal. Ia mendefinisikan pendidikan sebagai pimpinan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan. Kata kuncinya ada pada "jasmani dan rohani". Manusia bukan hanya otak yang diisi rumus dan hafalan. Ia juga punya hati, nurani, dan kesadaran tentang untuk apa ia hidup. Pendidikan yang hanya menggarap satu sisi menghasilkan manusia yang pincang.

Itu sebabnya saya sepakat dengan pandangan Natsir bahwa pendidikan agama dan pengetahuan umum tidak boleh dipisahkan, apalagi dipertentangkan. Pada 1930-an, ia mendirikan Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung dengan gagasan itu. Anak-anak belajar ilmu umum seperti sekolah pada umumnya, tetapi dengan tauhid sebagai fondasi. Natsir menolak anggapan bahwa agama urusan surau dan ilmu urusan sekolah. Baginya, keduanya satu napas.

Kita bisa melihat akibat dari pemisahan itu di sekitar kita. Ada orang berpendidikan tinggi yang pandai mengelola anggaran, tetapi tidak segan mengorupsinya. Ada pula yang rajin beribadah, tetapi gagap menghadapi dunia yang terus berubah karena tidak dibekali ilmu. Yang pertama cerdas tanpa kompas. Yang kedua punya kompas tanpa peta. Negeri ini membutuhkan keduanya sekaligus: akhlak yang kokoh dan kecakapan yang mumpuni.

Mengutamakan pendidikan agama tidak berarti mengurangi porsi sains, matematika, atau bahasa. Maksudnya ialah memberi arah. Ilmu tanpa nilai mudah dipakai untuk apa saja, termasuk hal yang merusak. Nilai tanpa ilmu sulit diwujudkan dalam kerja nyata. Pendidikan yang seharusnya menyatukan keduanya, sehingga seorang insinyur memahami bahwa jembatan yang ia bangun adalah amanah, dan seorang guru memahami bahwa mengajar adalah ibadah sekaligus profesi.

Tentu ada yang berkeberatan. Sebagian orang khawatir penekanan pada agama membuat pendidikan menjadi sempit dan kurang terbuka pada keragaman. Kekhawatiran ini patut didengar. Namun masalahnya bukan pada agama, melainkan pada cara mengajarkannya. Agama yang diajarkan sebagai hafalan dan larangan memang bisa menyempitkan. Agama yang diajarkan sebagai pembentuk karakter, kejujuran, dan kepedulian justru memperluas cara kita memandang sesama.

Maka ketika bertanya apa makna pendidikan yang seharusnya, jawaban saya sederhana: pendidikan yang melahirkan manusia yang tahu untuk apa ia berilmu. Natsir sudah menunjukkan arahnya hampir satu abad lalu. tugas kita sekarang bukan mencari konsep baru, melainkan sungguh-sungguh menjalankan yang sudah lama kita ketahui.


No comments:

Post a Comment