Setiap kali musim penerimaan siswa baru tiba, pertanyaan yang muncul hampir selalu sama: sekolah mana yang nilainya paling tinggi, jurusan mana yang paling cepat dapat kerja. Jarang sekali ada orang tua yang bertanya, anak saya nanti jadi manusia seperti apa?
Padahal itulah soal utamanya. Pendidikan terlalu sering kita kecilkan
menjadi urusan ijazah dan lapangan kerja. Ijazah memang perlu, pekerjaan juga
perlu. Tetapi keduanya hanya hasil sampingan. Inti pendidikan adalah membentuk
manusia.
M. Natsir memahami ini sejak awal. Ia mendefinisikan pendidikan sebagai
pimpinan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti
kemanusiaan. Kata kuncinya ada pada "jasmani dan rohani". Manusia
bukan hanya otak yang diisi rumus dan hafalan. Ia juga punya hati, nurani, dan
kesadaran tentang untuk apa ia hidup. Pendidikan yang hanya menggarap satu sisi
menghasilkan manusia yang pincang.
Itu sebabnya saya sepakat dengan pandangan Natsir bahwa pendidikan agama
dan pengetahuan umum tidak boleh dipisahkan, apalagi dipertentangkan. Pada
1930-an, ia mendirikan Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung dengan gagasan itu.
Anak-anak belajar ilmu umum seperti sekolah pada umumnya, tetapi dengan tauhid
sebagai fondasi. Natsir menolak anggapan bahwa agama urusan surau dan ilmu urusan
sekolah. Baginya, keduanya satu napas.
Kita bisa melihat akibat dari pemisahan itu di sekitar kita. Ada orang berpendidikan tinggi yang pandai mengelola anggaran, tetapi tidak segan mengorupsinya. Ada pula yang rajin beribadah, tetapi gagap menghadapi dunia yang terus berubah karena tidak dibekali ilmu. Yang pertama cerdas tanpa kompas. Yang kedua punya kompas tanpa peta. Negeri ini membutuhkan keduanya sekaligus: akhlak yang kokoh dan kecakapan yang mumpuni.
Mengutamakan pendidikan agama tidak berarti mengurangi porsi sains, matematika, atau bahasa. Maksudnya ialah memberi arah. Ilmu tanpa nilai mudah dipakai untuk apa saja, termasuk hal yang merusak. Nilai tanpa ilmu sulit diwujudkan dalam kerja nyata. Pendidikan yang seharusnya menyatukan keduanya, sehingga seorang insinyur memahami bahwa jembatan yang ia bangun adalah amanah, dan seorang guru memahami bahwa mengajar adalah ibadah sekaligus profesi.
Tentu ada yang berkeberatan. Sebagian orang khawatir penekanan pada agama
membuat pendidikan menjadi sempit dan kurang terbuka pada keragaman.
Kekhawatiran ini patut didengar. Namun masalahnya bukan pada agama, melainkan
pada cara mengajarkannya. Agama yang diajarkan sebagai hafalan dan larangan
memang bisa menyempitkan. Agama yang diajarkan sebagai pembentuk karakter,
kejujuran, dan kepedulian justru memperluas cara kita memandang sesama.
Maka ketika bertanya apa makna pendidikan yang seharusnya, jawaban saya sederhana: pendidikan yang melahirkan manusia yang tahu untuk apa ia berilmu. Natsir sudah menunjukkan arahnya hampir satu abad lalu. tugas kita sekarang bukan mencari konsep baru, melainkan sungguh-sungguh menjalankan yang sudah lama kita ketahui.
No comments:
Post a Comment